by

Malam ini Ada Gerhana Bulan Total

Jakarta, Intelmedia.co.id

Fenomena alam langka yang hanya muncul 200 tahun sekali atau tepatnya 195 tahun bakal terjadi Rabu (26/5/2021) malam ini. Ya, jika cuaca mendukung dan tidak ada pergerakan awan, mulai sore hingga malam nanti di sebagian besar wilayah Indonesia bisa melihat fenomena Gerhana Bulan Total (GBT). GBT atau juga dikenal sebagai Super Blood Moon yang muncul hanya sekali dalam dua abad ini tentu menarik banyak kalangan. Hal itu pula yang diingatkan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) agar masyarakat yang memiliki waktu untuk bisa menyaksikan fenomena GBT atau Super Blood Moon. Pasalnya, fenomena GBT ini hanya terjadi setiap 195 tahun sekali.

Fenomena alam GBT tersebut bakal berlangsung mulai sore ini pukul 16.00 WIB. Ini merupakan salah satu peristiwa terhalanginya sinar matahari oleh Planet Bumi yang menyebabkan tidak semua cahaya sampai ke bulan. Gerhana Bulan Total terjadi ketika posisi matahari-Bumi-bulan sejajar. Gerhana bulan total atau fenomena alam Super-Blood Moon kali ini bertepatan dengan Hari Raya Waisak Tahun 2565.

Dalam salah satu artikel yang ditulis R Jamroni ST MM di laman resmi BMKG disebutkan bahwa puncak gerhana ini dapat disaksikan langsung tanpa alat bantu optik pada pukul 18.46 WIB di wilayah barat Indonesia, 19.46 Wita di wilayah tengah Indonesia, dan pukul 20.46 WIT di wilayah Timur Indonesia.

Sementara, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) menyebut fenomena gerhana bulan total ini merupakan peristiwa yang sangat spesial karena hanya terjadi 195 tahun sekali.

Proses gerhana bulan total kali ini akan berlangsung selama 3 jam 7 menit yang akan diawali gerhana penumbra pada pukul 15.46.37 WIB dan kontak terakhir penumbra pukul 20.51.16 WIB yang mengakhiri seluruh proses gerhana. Durasi puncak gerhana akan berlangsung selama 14 menit dan 30 detik.

Fenomena Super-Blood Moon hanya terjadi ketika fase bulan penuh dan mengalami gerhana bulan total (GBT). Bulan akan tampak berwarna merah dan akan semakin merah bergantung dengan ketebalan partikel di atmosfer Bumi yang ditembus cahaya itu seperti polusi udara atau tutupan awan. (wa1/red)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed