by

Dede Farhan Aulawi Himbau Jaga Sistem Kekebalan Tubuh Dan Alternatif Swamedikasi

Bandung, Intelmedia.co.id – “Di tengah pandemi covid-19 yang telah mewabah dengan segala macam variannya, hal yang terpenting yang perlu dilakukan adalah mematuhi prokes dan berusaha untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Baik dengan cara berjemur di pagi hari, olah raga yang teratur, pola makan yang sehat dan membangun pola fikir yang rileks serta suasana hati yang riang. Perlu diketahui bersama bahwa tubuh kita pada sarnya memiliki kemampuan untuk menyembuhkan diri sendiri. Para ahli kesehatan mengungkap rahasianya yang disebut Salutogenese (Salus = sehat; Genesis = asal mula). Hal tersebut bisa dibuktikan, misalnya jika ada luka maka tubuh punya kemampuan membangun dan mereparasi kembali sel-sel yang rusak, sehingga luka bisa mengecil dan akhirnya pulih kembali,” ujar Ketum DPP Prawita GENPPARI Dede Farhan Aulawi di Bandung, Senin (17/01/2022).

Hal tersebut ia sampaikan saat awak media mengunjungi kediamannya yang dipenuhi aneka tanaman obat. Berdasarkan keterangannya, ia menyamppaikan bahwa semua tanaman tersebut ia sendiri yang menanam dan merawatnya. Bahkan tatkala kunjungan ke berbagai desa, jika ia melihat ada benih tanaman obat yang belum ada di rumahnya, suka berinisiatif meminta benih tanaman obat tersebut untuk ditanam di halaman rumahnya. Hal tersebut dibenarkan oleh para pengurus Prawita GENPPARI lainnya, bahwa Ketumnya menaruh perhatian besar dalam pengembangan aneka tanaman obat.

Kemudian ia juga menjelaskan bahwa manusia harus juga mampu menjaga kesehatan pikisnya karena akan mempengaruhi kesehatan tubuh. Jika seseorang mengalami stres, maka tubuh akan memproduksi lebih banyak kortisol, dan ini menyebabkan melemahnya sistem kekebalan tubuh. Akibatnya, orang tersebut lebih mudah tertular penyakit. Oleh karena itu agar sistem kekebalan tubuh kita ini baik, maka usahakan jangan sampai mengalami stress. Dia harus bisa berusaha untuk menjaga agar fikirannya bisa tetap rileks, karena neurotransmiter dari otak menstimulasi sistem kekebalan tubuh. Orang yang merasa rileks, senang atau bahagia, tubuhnya membentuk lebih banyak hormon Serotonin dan Endorfin. Kedua hormon ini juga ikut memperkuat kekebalan tubuh. Ujarnya.

Terkait dengan hal tersebut, saat ini ada yang disebut dengan Swamedikasi, yaitu perilaku mengkonsumsi obat sendiri berdasarkan diagnosis terhadap gejala sakit yang terjadi. Swamedikasi sendiri merupakan bagian dari “self care” yang merupakan usaha untuk mempertahankan kesehatan atau mencegah dan mengatasi penyakit. Perilaku swamedikasi pada masyarakat Indonesia tergolong tinggi. Obat-obatan yang digunakan untuk pengobatan sendiri atau swamedikasi biasa disebut dengan obat tanpa resep / obat bebas / obat OTC (over the counter). Biasanya obat-obat bebas tersebut dapat diperoleh di toko obat, apotik, supermarket hingga di warung-warung dekat rumah.

Lebih lanjut, Dede juga menambahkan bahwa dasar hukum swamedikasi adalah Permenkes NO.919/MENKES/PER/X/1993, yaitu upaya seseorang dalam mengobati gejala sakit atau penyakit tanpa berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu. Namun bukan berarti asal mengobati, justru pasien harus mencari informasi obat yang sesuai dengan penyakitnya dan apoteker-lah yang bisa berperan di sini. Apoteker bisa memberikan informasi obat yang objektif dan rasional. Swamedikasi boleh dilakukan untuk kondisi penyakit ringan , umum dan tidak akut.

Sementara itu jika merujuk pada Badan Kesehatan Dunia (WHO), dimana ia mendefinisikan swamedikasi sebagai pemilihan dan penggunaan obat modern, herbal, maupun obat tradisional oleh seorang individu untuk mengatasi penyakit atau gejala penyakit (WHO, 2010). Swamedikasi berarti mengobati segala keluhan pada diri sendiri dengan obat-obat yang sederhana yang dibeli bebas di apotik atau toko obat atas inisiatif sendiri tanpa nasehat dokter.

Dalam hal ini, untuk melakukan pengobatan sendiri secara benar, masyarakat sebaiknya harus mampu dalam hal mengetahui jenis obat yang diperlukan untuk mengatasi penyakitnya dan mengetahui kegunaan dari tiap obat, sehingga dapat mengevaluasi sendiri perkembangan sakitnya. Kemudia ia juga harus tahu cara penggunaan obat tersebut secara benar (cara, aturan, lama pemakaian) dan tahu batas kapan mereka harus menghentikan self-medication dan segera minta pertolongan petugas kesehatan. Selanjutnya ia juga harus tahu efek samping obat yang digunakan sehingga dapat memperkirakan apakah suatu keluhan yang timbul kemudian itu suatu penyakit baru atau efek samping obat. Termasuk iapun harus tahu siapa yang tidak boleh menggunakan obat tersebut.

Swamedikasi yang benar harus diikuti dengan penggunaan obat yang rasional. World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa penggunaan obat rasional mensyaratkan bahwa pasien menerima obat yang sesuai dengan kebutuhan klinis mereka atau peresepan obat yang sesuai dengan diagnosis, dalam dosis yang memenuhi kebutuhan dan durasi yang tepat, untuk jangka waktu yang cukup, dan pada biaya terendah. Kriteria yang digunakan dalam penggunaan obat yang rasional tersebut adalah Tepat Diagnosis, Tepat Pemilihan Obat, Tepat Dosis, Waspada Efek Samping, Efektif, aman, mutu terjamin, dan harga terjangkau, serta Tepat tindak lanjut (follow up). Kuncinya apabila pengobatan sendiri telah dilakukan, namun sakit masih berlanjut maka sebaiknya segera konsultasikan ke dokter.

“ Dengan demikian, dalam konteks ikhtiar dalam menjaga kesehatan tentu harus dilakukan dengan berbagai cara agar kondisi badan kita tetap fit. Disamping berbagai ikhtiar seperti yang sudah disebutkan di atas, juga harus mampu menjaga stamina fikiran dan hati dalam suasana yang rileks dan riang. Berwisata ke desa bisa menjadi alternatif untuk menjaga kesehatan tadi agar tetap bergembira, dan juga sekaligus berolah raga di tengah pertanian, perkebunan, atau perbukitan dan pegunungan. Jika mengalami gejala sakit ringan, bisa juga diatasi dengan swamedikasi atau pengobatan sendiri, namun tetap harus memperhatikan berbagai informasi yang tepat terkait dengan penggunaan, dosis, cara dan lainnya. Semoga seluruh masyarakat Indonesia senantiasa diberikan kesehatan dan keselamatan dari berbagai ancaman penyakit yang sedang melanda dunia dewasa ini. Aamiin YRA “, pungkas Dede mengakhiri perbincangan dengan sebuah harapan dan do’a.

(Anton/rls)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed