by

Perjanjian Yang Diingkari, Diduga Dilakukan Oleh Oknum Ayah Kandung Terhadap Sang Buah Hati

Pekalongan, Intelmedia.co.id

Perilaku kekerasaan dan juga penelantaran dalam suatu keluarga kerap terjadi di dalam kehidupan sehari-hari, rasa tanggungjawab yang harusnya dilakukan oleh seorang Ayah terhadap anak dan istri sering diabaikan sehingga terjadi tindak pidana yang melanggar undang-undang yang berlaku di negara kita tercinta Indonesia.

Setelah Wartawan Intel Media Biro Kota Pekalongan dan Aktivis Perlindungan Anak memperjuangkan hak anak yang berinisial NK (10) supaya bisa sekolah yang baru kemarin sudah berhasil, maka Wartawan Intel Media dan Aktivis Perlindungan Anak hari Jumat, 1 Jan 2021 memperjuangkan keadilan bagi NK tersebut supaya ayahnya yang berinisial A tidak lagi melakukan kekerasan terhadap anaknya.

Ternyata A berkelit saat di temui wartawan Intel Media dan Aktivis Perlindungan Anak di kediamannya Jl. Dr. Cipto Kec. Pekalongan Timur Kota Pekalongan. Bahkan melontarkan kata kata yang terkesan menantang, dikatakan A kepada Aktivis Perlindungan Anak dan Wartawan Intel Media bahwa A tidak takut dengan rekan rekan LSM, Pers, Polisi, dan Pengacara.

Karena menurut pengakuan dari A kepada Aktivis Perlindungan Anak dan Wartawan Intel Media Kota Pekalongan, bahwa ia punya bekingan oknum pengacara yang berinisial AN alias AB (37)

Akhirnya A bercerita tentang masalah utang piutang kepada awak Intel Media saat menemui A di kediamannya tersebut.

Wartawan Intel Media mengarahkan ke rekan pengacara dan malam harinya A dan Wartawan Intel Media mendampingi A untuk menemui pengacara tersebut.

Saat di rumah pengacara tersebut A yang berada di Kec. Tirto Kota Pekalongan, menceritakan permasalahan utang piutangnya, ternyata masalah utang piutang A itu diduga ada hubungannya dengan kisah asmara A dan anak dari Ibu OT (70) yang ternyata ada perjanjian antara Ibu OT dan A yaitu menjaminkan anaknya perempuan OT kepada A.

Setelah selesai dari rumah pengacara tersebut, A diarahkan oleh Wartawan Intel Media untuk menuju ke area Radar Pekalongan untuk membuat surat pernyataan hitam di atas putih, yang isi surat tersebut ialah janji A kepada istri dan anaknya untuk memberikan nafkah dan tidak akan melakukan kekerasan terhadap anaknya lagi

Ternyata A cukup alot saat diminta membuat surat pernyataan tersebut, akan tetapi akhirnya A membuat surat tersebut di hadapan Aktivis Perlindungan Anak Kota Pekalongan dan di tanda tangangi oleh A dan istri serta Wartawan Intel Media sebagai saksi.

Dengan demikian, A sudah berjanji untuk memberikan nafkah kepada istri dan anaknya serta tidak akan melakukan kekerasan terhadap NK anak kandungnya sendiri, dan A bersedia di proses hukum jika masih melakukan kekerasan terhadap NK dan tidak menafkahi istri dan anaknya tersebut.

Ternyata tidak membuat jera A walau sudah di bawa ke hadapan rekan pengacara, A masih tetap tidak mau memberikan nafkah kepada anaknya walau Rp 2000,- padahal sudah membuat surat pernyataan bahwa A akan memberikan uang jajan setiap hari sebesar Rp 2000,-

Lagi lagi A selalu beralasan tidak punya uang saat di desak tentang biaya nafkah untuk istri dan anaknya oleh Aktivis Perlindungan Anak dan Wartawan Intel Media, akan tetapi bisa mengajak anak dan istrinya makan, tapi untuk memberi nafkah kepada istri dan anaknya selalu beralasan tidak punya uang.

Bahkan saat ditanya oleh Aktivis Perlindungan Anak Kota Pekalongan dan Wartawan Intel Media tentang anaknya yang kedua meninggal dan sampai tidak mau membeli peti mati untuk anak keduanya tersebut jawabannya sama karena tidak punya uang.

(Ariyanto)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed