by

Janganlah Menjadi Orang Tua Toxic (Racun)

Pekalongan, Intelmedia.co.id

Apakah pernah mendengar kata Toxic Parents? Yaitu istilah untuk orang tua yang berperilaku buruk dengan melakukan kekerasan fisik atau verbal pada anak. Namun, juga berlaku bagi orang tua yang bertindak untuk ‘meracuni’ keadaan psikologis atau kesehatan mental anak. Seperti quotes yang ditulis oleh David Bly “Anak Anda akan menjadi seperti Anda; jadi bersikaplah sebagaimana Anda ingin mereka bersikap” terkesan jarang untuk diterapkan dikalangan orangtua di Indonesia. Banyak orang tua yang didik dengan cara kasar dan meneruskannya kepada anak mereka.

Faktanya, beda anak, berarti beda sifat individualnya dan beda juga cara responnya. Lalu apa ciri-ciri dari toxic parents itu sendiri?

Ciri-Ciri dan Dampak Toxic Parents
Biasanya orang tua yang toxic egois dan kurang empati pada anak, reaktif secara emosional, suka mengontrol yang berlebihan, kurang menghargai usaha anak, menyalahkan dan kritik berlebihan pada anak, menuntut berlebihan, bercanda yang merendahkan anak, mengungkit apa yang telah dilakukan untuk anak.

Semua ciri-ciri tersebut dapat berdampak pada kondisi psikis anak saat dewasa, biasanya akan kehilangan eprcaya diri, tidak dapat membuat keputusan, menjadi anak yang mudah marah, merasa tidak dicintai, sering menyalahkan diri sendiri, haus perhatian, merasa terkekang, dan yang lebih parah dapat mengalami depresi.

Pola Asuh di Indonesia, mengupas masalah Toxic Parents kami membagikan kisah bagi yang menjadi korban dari Toxic Parents itu sendiri. Di Indonesia sendiri sudah melekat dengan budaya “orang tua selalu benar”, padahal orang tua juga manusia yang memiliki kekurangan, kelebihan, dan juga masih butuh belajar.

Kasus korban toxic parenting yang ada di Indonesia ini banyak didapatkan dari pola asuh otoriter. Menurut Baumrid dalam Stiwart & Koch (1983:96), pola asuh otoriter merupakan pengasuhan yang dilakukan dengan cara memaksa, mengatur, dan bersifat keras. Orang tua menuntut anaknya agar mengikuti semua kemauan dan perintahnya berdampak pada konsekuensi hukuman atau sanksi.

Maka dari itu jadilah orang tua yang baik, jangan menjadi toxic/racun bagi anak. Perhatian tidak harus mencampuri urusan pribadi anak, tapi bagaimama mendidik anak supaya bisa mandiri. Ingat mendisiplin anak tidak harus dengan kekerasan, mendidik anak bukan berarti harus membatasi semua. Tapi didiklah anak dan mendisiplin anak dengan prosedur dan aturan yang benar, bagaimana aturan dan prosedur yang benar ? Pelajarilah UU Perlindungan Anak No. 23 Tahun 2002/No.35 Tahun 2014, dan juga tentang parenting anak.

(Ariyanto)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed