by

Waduh!!! Ribuan Perempuan di Cirebon Pilih Jadi Janda

Cirebon, Intelmedia.co.id

Efek pandemi Covid-19 ternyata tak hanya merusak tatanan kesehatan. Namun, masalah ekonomi pun ikut muncul dengan sendirinya. Mulai dari pemutusan hubungan kerja (PHK), pengurangan produksi pabrik hingga bisnis yang tutup kian menambah persoalan. Kondisi tersebut membuat keharmonisan rumah tangga juga terancam. Pasalnya, adanya PHK atau merumahkan karyawan membuat ekonomi keluarga jadi terhenti. Sementara kebutuhan hidup tak bisa dikompromikan. Sulitnya ekonomi ini diyakini jadi salah satu penyebab utama maraknya kasus perceraian di Kabupaten Cirebon.

Sepanjang tahun 2020 saja, angka perceraian di Kabupaten Cirebon jumlahnya menembus angka 7.328 kasus. Itu artinya, ada ribuan perempuan yang lebih memllih jadi janda tahun ini.

Demikian diungkapkan Humas Pengadilan Agama (PA) Kelas I A Sumber, Kabupaten Cirebon, Abdul Aziz. Dia mengatakan, jumlah janda itu berdasarkan gabungan antara perkara cerai talak dengan cerai gugat. Di mana cerai talak mencapai 2.151 kasus, sementara cerai gugat menembus angka 5.177 kasus.

“Cerai talak juga sama, suami jadi duda dan istrinya jadi janda, dan cerai gugat juga otomatis istri jadi janda,” kata Aziz, Jumat (15/1/2021).

Menurut Aziz, yang menjadi dominasi perkara masuk di PA Kelas I A Sumber adalah cerai gugat, di mana istri yang mengajukan gugatan atas suami mencapai 5.177 perkara.

“Sementara untuk cerai talak atau cerai yang diajukan oleh laki-laki (suami) mencapai 2.151 perkara,” katanya

Aziz mengungkapkan, ada beberapa penyebab terjadinya perceraian dalam hubungan rumah tangga. Hal tersebut lantaran dilatarbelakangi oleh faktor ekonomi yang semakin terpuruk akibat wabah Covid-19.

“Kalau berbicara masalah ekonomi otomatis nyambung ke rumah tangga. Kenapa perempuan itu banyak penggugat. Karena masalahnya penghasilan suami sudah berkurang di masa pandemi ini. Bahkan, sudah tidak ada lagi,” ujarnya.

Ia menyampaikan, sepanjang 2020 lalu, PA Kelas I A Sumber mencatat 8.043 perkara yang masuk. Dari angka itu sebanyak 95 persen perkara yang telah terselesaikan.

Tidak hanya itu, kata Aziz, pihaknya juga mencatat perkara-perkara lainnya seperti dispensansi kawin sebanyak 534.

“Karena dispensansi kawin sekarangkan ada satu perubahan atau peraturan perundang-undangan yaitu laki-laki 19 tahun, perempuan 16 tahun. Sekarang sama 19 tahun semuanya, Itulah yang melonjak,” katanya.

(Ari Suharto)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed