by

Mengenal Badai Tropis “Kembang Seroja”

Jakarta, Intelmedia.co.id

Sejatinya, pengistilahan badai tropis adalah bentuk lain dari fenomena anomali atau kelainan  cuaca yang terjadi di suatu wilayah. Sebagai contoh, siklon tropis Seroja yang baru-baru ini di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Badai Seroja atau siklon tropis Seroja adalah yang paling kuat di antara siklon tropis yang pernah menyerang Indonesia. Siklon Seroja ini pun yang pertama naik ke daratan.

Badai tropis kembang Seroja ini menjelma menjadi badai hujan dengan petir yang meledak-ledak disertai angin kencang yang mendesing. Badai hujan ini sangat berbahaya, di laut maupun di darat. Sejumlah lokasi di NTT luluh lantak, dengan korban 165 tewas dan 45 orang hilang, oleh terjangan siklon Seroja, pada Minggu 4 April lalu itu.

Sebagai fenomena cuaca, siklon tropis tentu bukan isu baru. Tapi, di Indonesia kehadirannya baru terpantau secara teratur sejak 2008, pasca dioperasikannya Tropical Cyclone Warning Center Jakarta, sebuah unit di bawah BMKG. Siklon pertama yang mendapat nama bunga adalah siklon yang terjadi pada tahun 2010. Kala itu, BMKG memberi nama siklon itu dengan nama bunga Anggrek hingga Flamboyan.

BMKG baru memiliki kewenangan menamai siklon tropis di Indonesia sejak 2008 ketika Tropical Cyclone Warning Center berdiri di Jakarta. Nama siklon pertama yang lahir dari BMKG adalah Durga. Nama itu diambil dari tokoh pewayangan yang dikenal di Jawa.

Siklon Durga muncul pada 2009. Kemunculannya yang begitu mendadak, memaksa BMKG memilih nama tersebut. Baru ketika 2010, BMKG memilih nama Anggrek sebagai nama siklon tropis, lalu Bakung (2014), Cempaka (2014), Dahlia (2017), dan Flamboyan (2018), Kenanga (2018), Lili (2019), dan Mangga (2020).

BMKG memang kerap menggunakan nama bunga untuk penamaan siklon tropis. Kepala Bidang Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca di BMKG, Ramlan menjelaskan bahwa ada makna khusus dalam memilih nama tersebut. Dalam laman resmi, World Meteorogical Organization (WMO) menjelaskan bahwa praktik penamaan itu ditujukan untuk membantu publik mengidentifikasi dengan cepat kehadiran badai. Selain itu, penamaan itu dinilai akan membantu media dalam menuliskan keberadaan siklon tropis.

Maka, ketika BMKG melihat bibit siklon mulai tumbuh 2 April lalu dan membesar esok harinya, peringatan dini pun disebarluaskan. Tapi, tak ada yang bisa mencegahnya tumbuh menjadi badai raksasa itu.

Kepala BMKG Profesor Dwikorita Karnawati, dalam keterangan pers yang  disampaikan secara virtual melalui kanal youtube Sekretariat Presiden, Selasa (6/4/2021), menyebut adanya kecenderungan bahwa kini siklon tropis lebih sering unjuk diri.

“Setiap tahun selalu muncul,” katanya.

Kepala BMKG itu kemudian merinci, ketika Tropical Cyclone Warning Center mulai bekerja di 2008, tercatat muncul siklon tropis Durga. Ia baru muncul lagi 2010 dan diberi nama Anggres. Sejak 2010, nama bunga atau buah yang disematkan bagi siklon tropis di kawasan Indonesia. Tiga tahun absen, siklon tropis ini baru muncul lagi 2014 dengan nama Bakung.

Absen lagi tiga tahun dan muncul kembali di 2017, bahkan dua siklon berturut-turut, Cempaka dan Dahlia. Begitu halnya di  2018 ada dua buah, Flamboyan dan Kenanga. Pada 2019 ada siklon  tropis Lily dan siklon Mangga pada 2020. Lantas pada 2 April 2021, bibit siklon tropis Seroja lahir dan ternyata tumbuh menjadi hujan badai yang sangat kuat.

Sebelum dilakukan oleh BMKG per 2008, pemantauan siklon di Indonesia ditangani Australia. Bila keduanya digabung akan terdapat data serial 42 tahun. Data tersebut dapat memperlihatkan bahwa 66 persen siklon tropis di kawasan Indonesia hadir pada Januari, Februari, dan Maret. Yang terjadi pada Desember sebanyak 14 persen, April 11 persen, dan selebihnya 9 persen.

Sejauh ini, BMKG mencatat bahwa Badai Seroja yang paling kuat di antara siklon tropis yang pernah menyerang Indonesia. Bukan itu saja, Profesor Dwikorita menyebut, siklon Seroja ini pun yang pertama naik ke daratan. Siklon-siklon sebelumnya hanya bergerak di laut. Kepala BMKG itu memperlihatkan citra satelit bahwa mata siklon Seroja tampak berputar-putar di sekitar Kota Kupang, lalu bergeser ke Pulau Rote, seraya mendatangkan hujan ekstrem dan tiupan angin yang cukup kuat.

Di Kupang hari itu tercatat curah hujan 250 mm, angka yang tak pernah tercatat di NTT. Kecepatan anginnya sampai 85 km per jam. Ombak di Laut Sawu ketika itu mencapai 6 meter. Siklon tropis ini juga menimbulkan dampak langsung sampai ke area Sumba Barat, yang berjarak lebih dari 500 km. Pulau Adonara dan Lembata, yang berjarak lebih dari 250 km dari Kupang, digerojok hujan ekstrem dan angin kencang.

(Nuhman/rls)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed