Menimbang Hari Pencak Silat Nasional

Ragam Berita57 Dilihat

Jakarta, korankabarnusantara.co.id – Pasca diakuinya Pencak Silat atau “Tradisi Pencak Silat” oleh UNESCO pada 12 Desember 2019, di Bogota Kolumbia, muncul wacana perlunya ditetapkan Hari Pencak Silat yang secara eksplisit pada setiap tanggal tersebut, dalam tiga tahun terakhir ini selalu ditandai dengan aksi pernyataan deklarasi dan demo atau atraksi pencak silat di beberapa daerah yang dilaksanakan oleh perguruan/komunitas maupun IPSI setempat.

Namun sayang aksi tersebut bersifat sporadis dan parsial, mestinya secara masif disinergikan agar 12 Desember menjadi momentum strategis sebagai suatu Usulan Nasional kepada pemerintah pusat, dalam hal ini Kemendikbudristek dan Kemenpora, tentu dalam naungan koordinasi PB. IPSI, sebagai induk organisasinya. Momentum diakuinya pencak silat oleh UNESCO, tidak hanya cukup dengan spirit atau semangat saja, perlu waktu dan proses atau tahapan yg harus dilalui, paling tidak dengan mengacu pada referensi ditetapkannya Hari atau Peringatan, seperti Hari Musik, Hari Tari, Hari Batik, Hari Wayang, Hari Aksara, Hari Dongeng, dan hari hari peringatan lainnya.

Penetapannya tidak sepihak, tidak parsial, keputusannya beradasarkan konsensus nasional, mengingat keputusan tersebut ditetapkan oleh Presiden (Keputusan Presiden). Konkritnya, penetapan Hari Pencak Silat harus melalui proses kajian matang yang komprehensif, tujuannya tidak semata hanya karena pencapaian prestasi yang dibuat, tetapi utamanya untuk menguatkan kesatuan identitas nasional, membentuk kesadaran masyarakat Indonesia akan pentingnya upaya pelestarian, pengembangan dan pemanfaatan budaya pencak silat, seruan atau ajakan agar pencak silat Indonesia tetap terjaga, dan momen strategis kesatuan dan persatuan dari pecinta, praktisi, pemerhati, serta akademisi pencak silat. Adapun kerja komprehensif diimplementasikan dalam bentuk serangkaian rencana kerja, yaitu dengan mengadakan seminar atau sarasehan ( FGD) sebagai langkah awal perumusan penetapan Hari Pencak Silat Nasional, Pembentukan Kelompok Kerja (POKJA) yang terdiri dari para praktisi, tokoh/ pakar pencak silat serta kalangan akademisi.

Dibentuk berdasarkan kebutuhan dengan masa kerja yang ditentukan. Kemudian tahapan seminar atau sarasehan akhir yang memutuskan Penetapan Hari Pencak Silat Nasional, selajutnya Tim Pokja membawa usulan tersebut ke Kemendikbudristek atau Kemenpora, yang diteruskan ke Kementrian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) serta ke Sekretariat Negara (Setneg). Kemudian akhir dari proses pengusulan dan penetapan itu, Presiden menandatangani dan menerbitkan Surat Keputusan Presiden (Keppres) tentang Hari Pencak Silat Nasional.

Momentum historis, 12 Desember 2019, diakuinya pencak silat atau “Tradisi Pencak Silat” oleh UNESCO bisa jadi merupakan usulan tunggal atau satu satunya momen historis terpilih “best moment special”, karena hal yang sama juga, peringatan Hari Batik, Hari Wayang, Hari Keris, Hari Angklung dan Hari Gamelan, mengacu pada penetapan diakuinya Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) tersebut oleh UNESCO.

Lantas, momen historis lainnya yang sudah lama mengakar dan juga memiliki peran dan kedudukan strategis dalam pelestarian dan pengembangan pencak silat di jagat nusantara ini, tidak bisa diabaikan begitu saja tanpa menoleh dan mempertimbangkan, berdirinya IPSI, 18 Mei 1948, di Surakarta Jawa Tengah. Founding Fathers, salah satu pendiri IPSI adalah Mr. Wongsonegoro yang merupakan Ketua PB. IPSI Pertama, pernah menjabat Wakil Perdana Mentri ” Kabinet Pentjak” Ali Sastroamidjoyo I, dan menjabat Mentri Pendidikan dan Kebudayaan. IPSI, sebagai induk organisasi pencak silat, yang sampai saat ini masih berkiprah terutama dalam pengembangan pencak silat prestasi ( olahraga), dan wujud eksistensinya, setiap tanggal 18 Mei selalu diperingati atau dirayakan Hari Jadi (Ultah) IPSI.

Fakta historis lainnya yang juga layak dipertimbangkan karena upaya perintisan pencak silat di tanah air, adalah berdirinya Perkumpulan Silat (Pejuang Siliwangi) Partisan Siliwangi, 2 Juli 1922, di Sagalaherang, Subang, Jawa Barat. Pendiri yang juga Ketuanya, Ama Rd. Puradiredja, pernah mendapat bintang gerilya dari Presiden Soekarno. Berdirinya Perguruan Pencak Silat Persaudaraan Setia Hati Terate ( PSHT) tahun 1922, di Madiun, Jawa Timur oleh Ki Hadjar Hardjo Oetomo, seorang Perintis Kemerdekaan.

Momentum yang berbeda dalam menetapkan peringatan atau hari jadinya, adalah Hari Musik Nasional 9 Maret, berdasarkan tanggal lahirnya komponis besar Indonesia WR. Supratman, sedangkan Hari Musik Sedunia (World Music Day) diperingati 21 Juni, diilhami oleh seniman/ pemusik muda yang berkontribusi atas perannya untuk industri musik. Sementara itu, Hari Tari Nasional maupun Hari Tari Sedunia dirayakan bersama 29 April, yang mengacu tanggal lahirnya Jean Georges Noverre (1727 – 1810), seorang tokoh tari dunia, yang merupakan pencipta Balet Modern.

Penting dan perlunya data kajian yang komprehensif dalam menimbang usulan maupun dalam menetapan Hari Pencak Silat, utamanya kajian data yang bersumber dari fakta fakta historis tentu agar keputusannya dapat dipertanggung jawabkan secara keilmuan (akademik) dan mendapatkan legimitasi dari pemerintah maupun oleh masyarakat pendukungnya. Berbasis kerja yang komprehensif memupus stigma bahwa usulan ataupun penetapan Hari Pencak Silat Nasional hanya mengikuti trend atau “budaya latah” dengan spirit euforia semata.

Rekomendasi atau Proposal ajuan tentang Hari Pencak Silat Nasional, kedepannya apabila menimbang pilihan 12 Desember sebagai Hari Pencak Silat Nasional, mestinya mengacu pada spirit yang menjadi alasan utama UNESCO mengakui Pencak Silat sebagai warisan budaya tak benda dunia. UNESCO mengakui bahwa pencak silat telah menjadi identitas dan pemersatu bangsa Indonesia. Tradisi pencak silat mengadung nilai nilai persahabatan, sikap saling menghormati dan mempromosikan kohesi sosial. Maknanya, bahwa pencak bukan semata soal beladiri, tapi lebih dari pada itu adalah soal kemanusia, utamanya kandungan nilai nilai universal, seperti persahabatan, persaudaraan, sportivtas dan perdamaian abdi. Oleh karena itu, hendaknya dalam mengusung Hari Pencak Silat tidak lagi bersifat parsial, kedaerahan ( lokal), tapi berdasarkan konsensus nasional, bahkan Internasional, seperti halnya dengan Batik, Wayang, Keris dan Gamelan yang telah memiliki dan menetapkan peringatan atau hari jadinya, berlaku secara nasional dan internasional (dunia).

Semoga saja di tahun mendatang, melalui inisiasi yang progresif dan masif dari semua komponen yang terkait pengelolaan pencak silat, dapat mewujudkan Hari Pencak Silat Nasional dan Hari Pencak Silat Dunia. Pencak itu Keren dan Seksi.

(Wahdat MY, Penggiat Pencak Silat)

Tinggalkan Balasan